Rabu, 17 November 2010

Gagasan,Sosiologi, dan Antropologi Sebagai Landasan Ilmu Komunikasi


Oleh: Fachrur Rizha, S.Sos.I, SP, M.I.Kom

Komunikasi ternyata bukan hanya sebagai sebuah kebiasaan atau rutinitas masyarakat semata, namun ilmu komunikasi merupakan suatu keilmuan yang ilmiah yang memiliki landasan tersendiri. Dimulai dari ide/gagasan yang tercipta dari pikiran manusia hingga pada interkasi masyarakat yang terkait dengan kajian sosiologi dan hubungan budaya yang juga terkait dengan antropologi. Meskipun komunikasi terkait dengan berbagai kajian ilmu lainnya, tapi ilmu komunikasi merupakan ilmu ilmiah yang memiliki kajian-kajian tersendiri serta memiliki ontologi, epistimologi dan aksiologi yang kuat.


A.PENDAHULUAN

Komunikasi adalah hal yang senantiasa tidak pernah lepas dari kehidupan kita, baik itu dalam berintraksi langsung (face to face) atau tidak. Menurut James A. F. Stoner, bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan. John R. Schemerhom dalam Managing Organization Behavior bahwa Komunikasi dapat diartikan sebagai proses antara pribadi dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka (H.A.W. Widjaja, 2000: 13). Sedangkan menurut Rogers dan D. Lawrence Kincaid Komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran inforamsi dengan sutu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pergertian mendalam (Hafied Cangara, 2006: 19).

Sebagai sebuah ilmu, komunikasi memiliki landasan tersendiri dalam menguatkannnya menjadi suatu keilmuan ilmiah, mulai dari tumbulnya gagasan, sosiologi dan antropologi. Meskipun dalam kajian munculnya ilmu komunikasi juga terkait dengan sejumlah ilmu terapan yang lain, namun komunikasi merupakan ilmu terpisah yang memiliki ontologi, epistimologi dan aksiologi tersendiri.

B. PEMBAHASAN
1.Gagasan sebagai Landasan dalam Komunikasi
Gagasan/idea perkembangan komunikasi. Gagasan dalam communication action berkembang dari interkasi yang terjadi antar manusia. Seperti halnya manusia pada masa purbakala mereka melakukan interaksi dengan berbagai aksi yang dilakukan sebagai pertukaran informasi. Mereka melakukan aksi seperti mengejar hewan buruan dengan turut mengeluarkan suara-suara yang belum memiliki arti dari segi bahasa. Saat mereka mengejar hewan buruan dan ada juga orang lain yang mengejarnya dan mendapatkan berdasarkan dari transformasi komunikasi atau suara dari yang mengejar hewan buruan tersebut maka akan terjadi interkasi mengenai siapa yang berhak memakan atau yang terlebih dahulu memakan hewan buruan tersebut. jika orang yang kedua menangkapnya terlebih dahulu memakannya maka akan yang pertama berburu atau yang yang pertama mengejar hewan tersebut akan bergumam yang menandakan bahwa dialah yang lebih berhak memakannya lebih dahulu. Hal itu dilakukan berdasarkan idea tau gagasan yang menandakan jika orang yang pertama mengejar hewan tersebut marah dan ingin orang pemburu kedua pergi dan tidak memakannya lebih dahulu. Gumaman yang keras dari yang pemburu pertama ini akan mendapatkan respon dari pemburu kedua hingga akhirnya melahirkan suatu kesepakatan mengenai cara memakan hewan buruan bersama tersebut.

Dalam perkembangan interaksi manusia, setiap aksi kemudian melahirkan kata-kata tertentu, dan sebagian kata ini juga dibentuk berdasarkan sifat aksi yang dilakukan, seperti kata-kata kentut yang katanya menyerupai suaranya. Dari kata-kata yang terus berkembang dan bertambah seiring banyaknya interaksi manusia kemudian kata-kata ini menjadi bahasa yang merupakan sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia dalam menyampaikan pesan atau dalam memberikan suatu pemahaman mengenai sesuatu hal. Kata terwujud dari adanya suatu pemahaman yang sama dalam mengartikan suatu benda atau simbol tertentu. Yang kemudian kata itu disepakati menjadi suatu kata yang digunakan bersama atau kata yang memiliki arti yang sama.

Menurut Lislie White (1968), makna suatu simbol hanya dapat ditangkap melalui cara-cara nonsenris, yakni melalui proses penafsiran (Interpretive process). Makna dari suatu simbol terntentu dalam proses interkasi sosial tidak begitu saja bisa langsung diterima dan dimengerti oleh semua orang, melainkan harus terlebih dahulu ditafisirkan (J. Dwi Nerwoko dan Bagong Suyanto, 2004: 17)

Lambang atau simbol adalah suatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambing meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal dan objek yang maknanya disepakati bersama, kemampuan manusia menggunakan lambing verbal memungkinkan perkembangan behasa dan menangani masalah antarmanusia dna objek (baik nyata atau abstrak) tanpa kehadiran manusia dan objek tertentu (Deddy Mulyana, 2007: 92)

Berdasarkan kata-kata yang disepakati mengenai maknanya oleh masyarakat atau kelompok itulah kemudian menjadi bahasa yang dapat memberikan makna pemahaman serta membantu proses interaksi manusia. Bahasa ini sangat terkait dengan budaya masyarakat karena bahasa adalah bagian dari budaya yang berkembang.

Budaya juga merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Masyarakat terbentuk dari nilai norma yang mengatur mereka. manusia merupakan homostatis di mana komunikasi membentuk kebudayaan dan juga begian dari kebudayaan itu sendiri. Menurut E. B. Taylor Kebudayaan merupakan keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, kemampuan, etika dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia dengan belajar sebagai anggota masyarakat.

Dalam kehidupan budaya masyarakat dan interaksi maka terjadilah proses komunikasi yang terjadi guna membantu mereka dalam berinteraksi dengan baik. Proses ini sedikitnya melibatkan tiga unsure, yaitu komunikator, pesan dan komunikan.
Komunikasi sebagai suatu proses artinya bahwa komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan serta berkaitan satu sama lainnua dalam kurun waktu tertentu. Proses komunikasi melibatkan banyak faktor atau unsur. Faktor atau unsure yang dimaksud antara lain dapat mencakup pelaku atau peserta, pesan (meliputi bentuk, isi dan cara penyajian). Saluran atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan, waktu, tempat, hasil dan akibat yang terjadi (Marhaeni Fajar, 2009: 33).

Berdasarkan perkembangan mengenai proses komunikasi ini, kemudian manusia mulai mengkaji setiap unsur dari komunikasi yang tidak lagi hanya terbatas pada apa yang terjadi saja, namun mengkaji komunikasi sebagai suatu kajian berfikir ilmiah. Dari sinilah komunikasi terus berkembang sehingga diakui dan dipandang sebagai suatu ilmu yang memiliki landasan tertentu dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu akan terwujud melalui sebuah metode ilmiah yang merupakan proses dalam ilmu.

2.Sosiologi Sebagai Landasan Ilmu Komunikasi
Sosiologi sebagai landasan ilmu komunikasi dapat dilihat terlebih dahulu dari fokus sosiologi itu sendiri seperti apa, apakah ada hubungan atau tidak dengan komunikasi sehingga bisa menjadi kontributor untuk lahirnya ilmu komunikasi. Namun sebaliknya bila tidak ada hubungan atau keterkaitan dengan komunikasi tentunya tidak bisa dijadikan sebagai landasan lahirnya ilmu komunikasi. Sebelum kita melihat keterkaitan sosiologi dengan komunikasi sehingga menjadi landasan lahirnya ilmu komunikasi, maka terlebih dahulu kita melihat dulu mengenai sosiologi itu sendiri.

Kata sosiologi berasal dari Sofie, yaitu bercocok tanam atau bertaman, kemudian berkembang menjadi socius, dalam bahasa latin yang berarti teman, kawan. Berkembang lagi menjadi kata sosial, artinya berteman, bersama, berserikat. Secara khusus kata sosial maksudnya adalah hal-hal mengenai berbagai kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Dengan kata lain menurut Hassan Shadily sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakatnya, (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakatnya) dengan ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agamanya, tingkah lau serta keseniannya atau yang disebut kebudayaan yang meliputi segala segi kehidupannya(Shadily, 1993: 1-2).

Kekhususan sosiologi adalah bahwa perilaku manusia selalu dilihat dalam kaitannya dengan struktur-struktur kemasyarakatan dan kebudayaan yang dimiliki, dibagi, dan ditunjang bersama (Veeger,1985:3). Berbeda dengan matematika, misalnya, yang objeknya mudah dikenal sifatnya pasti yakni angka-angka, subjek kajian sosiologi paling sulit dimengerti dan diramalkan karena perilaku manusia merupakan persilangan antara individualitas dan sosialitas. Keduanya saling mengisi dan meresapi.

Sosiologi mempelajari perilaku manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnya. Sosiologi mempelajari perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri usal-usul tumbuhnya, serta menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap anggotanya (Occupational Outlook Handlook, 1980-1981,US Departement of Labor, 1980: 431).
Sosiologi adalah ilmu yang membahas masalah tatanan/susunan. Melalui ini orang mengetahui berbagai fenomena yang saling mempengaruhi dalam pola-pola kehidupan masyarakat. Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama (Soemardjan dan Soemardi, 1964 : 14). Singkat kata, dapat dikatakan bahwa sosiologi tidak hanya merupakan suatu kumpulan subdisplin segala bidang kehidupan, melainkan merupakan suatu studi tentang masyarakat. Walaupun sebagian objek sosiologi sama dengan ilmu pengetahuan lainnya, namun sosiologi memandang kehidupan bermasyarakat dengan caranya sendiri (Narwoko dan Suyanto, 2004: 4).

Orang yang pertama menggunakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte (1798-1857). Erikson (Ritzer,2004: 16) mengatakan bahwa, menurut Erikson bukanlah penemu sosiologi modern, karena selain teori sosiologi konservatif banyak dipelajari oleh gurunya Claude Hanri-Saint Simon (1760-1825), Adam Smith atau para moralis Skotlandia adalah sumber sebenarnya dari sosiologi modern. Namun demikian, Comte memiliki jasa yang luar biasa untuk memperkenalkan sosiologi kepada dunia. Orang lain yang berjasa pada awal-awal perkembangan sosiologi adalah Emile Dulkheim (1858-1917). Karya-karya Dulkheim masih diwarisi oleh pandangan pencerahan pada sains dan reformasi sosial (Burhan Bungin, 2007: 15-16)

Fokus kajian ilmu sosiologi adalah pada interaksi sosial yang diisyaratkan oleh adanya fungsi-fungsi komunikasi. Sosiologi itu sendiri berdasarkan konsepsional pragmatis (Nina W. Syam. 2009: 3-6) menyimpulkan:
1.Sosiologi adalah ilmu sosial, bukan ilmu alam atau ilmu kerohanian. Pembedaan tersebut bukanlah pembedaan tentang metode, melainkan menyangkut pembedaan isi. Ini berguna untuk membedakan ilmu-ilmu lainnya yang berhubungan dengan gejala alam dan kemasyarakatan. Pembedaan tersebut untuk membedakan sosiologi dari astronomi, fisika, geologi, biologi dan ilmu alam lainnya.
2.Sosiologi bukanlah disiplin ilmu normatif, melainkan disiplin ilmu kategoris; artinya sosiologi terbatas pada apa yang terjadi kini, tidak pada apa yang terjadi atau seharusnya terjadi. Sebagai ilmu, sosiologi membatasi diri teradap persoalan penilaian, sehingga sosiologi tidak menetapkan kearah mana sesuatu seharusnya berkembang. Juga, tidak memberi petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dan politik. Dengan kata lain pandangan-pandangan sosiologi tidak dapat menilai apa yang buruk dan apa yang baik; apa yang benar dan apa yang salah, serta segala sesuatu yang bersangkut paut dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sosiologi menetapkan masyarakat pada suatu waktu dan tidak dapat menentukan bagaimana nilai-nilai tersebut seharusnya. Jadi, sosiologi berbeda dengan filsafat kemasyarakatan, filsafat politik, etika dan agama.
3.Sosiologi merupakan ilmu murni (pure sience), bukan merupakan ilmu terapan atau terpakai (applied sience). Dari sudut penerapannya perlu dicatat, ilmu pecah menjadi dua bagian: pure sience dan applied sience. Pure sience ialah ilmu yang bertujuan membentuk dan mengembangkan ilmu secara abstrak, yakni hanya untuk meningkatkan mutu tanpa menggunakannya dalam masyarakat. Applied sience ialah ilmu yang mempergunakan dan menetapkan ilmu itu dalam masyarakat dengan maksud membantu kehidupan masyarakat.
4.Tujuan dari sosiologi adalah menetapkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang masyarakat, bukan untuk mempergunakan pengetahuan itu terhadap masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu yang bertujuan mendapatkan fakta-fakta dari masyarakat yang mungkin dapat digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan masyarakat, meskipun sosiologi bukan berarti tidak mempunyai kegunaan sama sekali.
5.Sosiologi merupakan ilmu abstrak, bukan ilmu konkret; artinya, perhatian sosiologi bukan pada bentuk dan pola-pola peristiwa yang terjadi dalam masyarakat, melainkan pada wujudnya yang konkrit. Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau hukum interaksi antar manusia serta sifat hakikat, bentuk isi dan struktur dari masyarakat manusia.
6.Sosiologi merupakan ilmu empiris rasional yang menyangkut metode yang digunakannya.

Interaksi sosial yang berlangsung rutin dan tindakan sosial yang dilakukan orang-orang, bagi para ahli sosiologi adalah sebuah proses yang membentuk kenyataan sosial yang perlu dipernyatakan dan dibongkar untuk kemudian merangakainya kembali dalam suatu bentuk analisis tertentu yang dapat diteliti, dan dikomunikasikan kepada orang lain, serta diuji kembali kebenarannya.

Secara teoritis, sekurang-kurangnya ada dua syarat bagi terjadinya suatu interaksi sosial, yaitu terjadinya kontak sosial dan komunikasi. Terjadinya suatu kontak sosial tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tergantung kepada adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut. Sedangkan aspek terpenting dari komunikasi adalah bila seseorang memberikan tafsiran pada sesuatu atau perikelakuan yang lain (Narwoko dan Suyanto, 2004: 15-16).

Sebagaimana pembentukan kelompok yang terjadi melalui proses interkasi sosial, pembentukan masyarakat pun terjadi melalui proses interaksi antarkelompok. Proses pembentukan kelompok dan masyarakat luas itu terjadi melalui komunikasi. Komunikasi berawal dari pertemuan atau perkenalan. Komunikasi merupakan proses interaksi karena adanya stimulus (rangsangan) yang memiliki arti tertentu dan dijawab oleh orang lain (response), baik secara lisan, tertulis, maupun aba-aba. E. Bogardus mengemukanan “Communication gesture by one person which produces a response in the form of a verbal or silent symbol by second person”. Komunikasi menghasilkan interkasi sosial yang memungkinkan adanya kontak sosial (social contact). Kontak sosial merupakan usaha tindakan pertama, meskipun kontak ini belum mampu membentuk komunikasi yang berkelanjutan. Pembentukan komunikasi terjadi melalui kontak sosial. Itulah sebabnya, pembahasan komunikasi selalu berkaitan dengan proses sosial, yakni kegiatan pertukaran pikiran dan modifikasi sistem nilai. Komunikasi sosial di sebuah masyarakat merupakan proses yang tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai masyarakat.
Sebagai sebuah proses maka komunikasi mentransfer lambang-lambang yang mengandung arti sehingga komunikasi dapat dikatakan sebagai proses sosial. Lambang-lambang yang diberi makna oleh individu mempunyai arti khusus bagi masyarakat tersebut. Karena proses adalah any conntected series of event, secara otomatis proses komunikasi dapat disebut sebagai proses sosial. Menurut Lambert (1965:150) komunikasi sebagai suatu proses, mempunyai beberapa segi, yaitu objektif (lambiag sendiri) dan subjektif (arti yang diberikan pada sesuatu lambang) (Nina W. Syam, 2009:14).

Suatu kenyataan bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempunyai berbagai materi penelitian yaitu segala kejadian nyata dalam kehidupan manusia. makna menjadi sangat penting dalam konteks sosial, di mana menjadi makna menjadi sangat penting ditafsirkan oleh individu yang mendapatkan informasi, karena makna yang dikirim oleh komunikator terhadap komunikan menjadi sangat subjektif. Ini ditentukan oleh kontak sosial ketika informasi itu dikirim dan diterima. Sosiologi menjelaskan bahwa komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh kehidupan manusia. kontak sosial menjadi sangat bermakna karena ada komunikasi sehingga kehidupan sosial akan menjadi hidup, tanpa komunikasi interaksi sosial tidak akan terjalin.

Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx, di mana Marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran Jerman sementara Claude Hanri-Simon,Auguste Comte, dan Emile Dukheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran Perancis. Fokus Interkasi dalam masyarakat adalah komunikasi itu sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh sosiologi bahwa komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh kehidupan manusia. (Burhan Bungin, 2006: 27)

Hubungan komunikasi dengan sosiologi terikat pada proses peningkatan kerjasama antarmanusia, yakni apakah kerjasama itu antar individu ataukah antar individu dengan masyarakat yang lebih luas. Masyarakat dalam hal ini merupakan satuan yang didasarkan pada ikatan-ikatan yang sudah teratur dan stabil. Masyarakat sebagai kesatuan komplementer satu sama lain karena masyarakat tidak akan ada tanpa individu dan individu takkan ada tanpa masyarakat. Ini dapat dilihat dari kenyataan manusia dipengaruhi oleh masyarakatdalam proses pembentukan pribadinya, sebaliknya, individu mempengauhi masyarakat bahkan dapat menyebabkan perubahan besar terhadap masyarakat. Kedua unsur ini terbukti bahwa manusia adalah makhluk berpikir dapat mengambil kesimpulan dan mempelajari dari pengalamannya selain dari hasil pendidikannya untuk mencetuskan ide-ide baru. Sehingga masyarakat selalu berada dalam proses sosial yakni proses pembentukan masyarkat dan proses pembentukan ini terjadi dengan sendirinya bias berjalan dengan dua kemungkinan yaitu sarasi atau bertentangan. Pertentangan mudah terjadi apabila sistem prilaku dari setiap individu atau kelompok tidak dapat menerima tugas dan peran yang “diserahkan” kepadanya, proses ini semua bisa terjadi karena adanya komunikasi.

Proses komunikasi sekurang-kurangnya memerlukan dua orang, seseorang yang berkomunikasi dengan orang lain sehingga proses interaksi dan sosial terjadi, sangat tergantung pada norma-norma masyarakatnya. Tetapi, karena norma di dalam masyarakat juga dibentuk oleh proses komunikasi. Struktur komunikasi dapat mencerminkan masyarakat. Kesimpulannya, proses komunikasi dan sosiolgi sangat erat kaitannya dengan segi objektif dan subjektif. Maksudnya, masalah simbolisasi sehingga pendekatan simbolis pada proses komunikasi melalui pemahaman interaksionisme simbolik sangatlah relevan.

Komunikasi dan sosiologi merupakan dua hal yang saling keterkaitan, dengan demikian sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang sudah lama berkembang, sedangkan komunikasi merupakan proses interaksi yang berada dalam kajian sosiologi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sosiologi menjadi landasan untuk lahir dan berkembangnya ilmu komunikasi untuk mengkaji kualitas interaksi sosial masyarakat.

3.Antropologi Sebagai Landasan Ilmu Komunikasi
Antropologi dikatakan sebagai salah satu akar atau landasan lahirnya ilmu komunikasi. Seiring dengan perkembangan antropolgi tersebutlah akhirnya para ahli budaya melihat jika dalam budaya juga sangat tergantung pada komunikasi. Hal inilah yang kemudian dikaji mengenai proses dari komunikasi tersebut sehingga lahirlah ilmu komunikasi dari antroplogi. Namun untuk lebih jelasnya mengenai keterkaitan tersebut sebaiknya kita terlebih dahulu melihat menganai antopologi dan komunikasi itu sendiri.

Kebudayaan adalah komunikasi simbolis, simbolisme itu adalah keterampilan kelompok, pengetahuan, sikap, nilai, dan motif. Makna dari simbol-simbol itu dipelajari dan disebarluaskan dalam masyarakat melalui institusi. Menurut Levo-Henriksson (1994), kebudayaan itu meliputi semua aspek kehidupan kita setiap hari, terutama pandangan hidup – apapun bentuknya – baik itu mitos maupun sistem nilai dalam masyarakat. Ross (1986,hlm 155) melihat kebudayaan sebagai sistem gaya hidup dan ia merupakan faktor utama (common domitor) bagi pembentukan gaya hidup (Alo Liliweri, 2003,8-9)
Peradaban Romawi dan Yunani menjadi dasar bagi antropologi terutama yang berkaitan dengan maslah estetika, etika, metafisika, logam dan sejarah. Mempelajari antropologi dapat dilihat dari segi sejarah harus didasarkan pada orientasi humanistic, sejarah dan ilmu alam, karena perbedaan kondisi iklim dan keadaan permukaan tanah akan membawa peradaban keaadaan fisik, karakteristik dan konstitusi suatu masyarakat yang berbeda (Hipocrates 1962: 135). Memformulasikan tradisi

filosofis dan tradisi keilmuan akan memberikan proposisi-proposisi sebagai berikut;
1.Segala sesuatu itu mempunyai sebuah bentuk yang menentukan maksud dari bentuk tersebut
2.Semua hal yang ada dalam suatu Negara akan mengalami perubahan secara terus menerus; perubahan tersebut akan berkisar antara integrasi dan disintegrasi
3.Setiap bentuk merupakan sebuah struktur yang setiap bagiannya tersusun secara berbeda-beda tergantung dari kepentingannya
4.Desain setiap bagian memberikan sumbangan pada keseluruhan sistem sosial melalui aktualisasi
5.Dalam setiap sistem terjadi penyaringan untuk membuat keseimbangan dalam setiap bagian sistem.
6.Perubahan yang terjadi pada salah satu bagian system akan menganggu aktivitas dan akan mengakibatkan ketidak harmonisan dalam sistem tersebut.
7.Perubahan secara besar-besaran merupakan hasil modifikasi internal dari suatu bagian yang sedang diperluas dan kemudian dikontrol dengan membangun kembali harmosisasi dalam sistem.

Budaya sebagai konsep sentral. Linton (1945:32) memberikan definisi budaya secara spesifik, yaitu, budaya merupakan konfigurasi dari prilaku manusia dari elemen-elemen yang ditransformasikan oleh anggota masyarakat. Budaya secara umum telah dianggap sebagai milik manusia, dan digunakan sebagai alat komunikasi sosial di mana didalamnya terdapat proses peniruan. Selanjutnya konsep budaya telah menuntun para pakar etnologi Amerika dan Jerman kedalam suatu bentuk teoritik. Setelah Radcliffe-Brown (1965:5) para ilmuan antropologi sosial Prancis dan Inggris cenderung untuk membedakan konsep budaya dan sosial dan cenderung membatasi kedua konsep tersebut pada cara belajar berfikir, merasa, dan bertindak, yang merupakan dari proses sosial.

C. Kluchohn menghimpun dan menerbitkan kembali 164 definisi kebudayaan yang dikelompokkan menjadi enam: deskriptif, historical, normatif, psikologis, struktural dan genetic (Saifuddin, 2005: 83), Klukhohn melalui Universal Categories od Culture (1953) merumuskan 7 unsur kebudayaan yang unierasl (Koentjaraningrat, 1979: 218) yaitu:

a.Sistem teknologi, yaitu peralatan dan perlengkapan hidup menusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transport dan sebagainya.
b.Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekomoni (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan lainnya).
c.Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hokum dan sistem perkawinan).
d.Bahasa (lisan dan tulisan).
e.Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya).
f.Sistem pengetahuan.
g.Religi (sistem kepercayaan) (Burhan Bungin, 2006: 53).

Setiap praktik komunikasi pada dasarnya adalah suatu representasi budaya, atau tepatnya suatu peta atas suatu relitas (budaya) yang sangat rumit. Komunikasi dan budaya adalah dua entitas tak terpisahkan, sebagaimana dikatakan Edward T. Hall, “budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Begitu kita mulai berbicara tentang komunikasi, tak terhindarkan, kita pun berbicara tentang budaya (Deddy Mulyana, 2004 :14).

Budaya dan komunikasi berinteraksi secara erat dan dinamis. Inti budaya adalah komunikasi. Karena budaya muncul melalui komunikasi. Akan tetapi pada gilirannya budaya yang tercipta pun mempengaruhi cara berkomunikasi anggota budaya yang bersangkutan. Hubungan antara budaya dan komunikasi adalah timbale balik. Budaya takkan eksis tanpa komunikasi dn komunikasi pun takkan eksis tanpa budaya. Entitas yang satu takkan berubah tanpa perubahan entitas lainnya. Menurut Alfred G. Smith, budaya adalah kode yang kita pelajari bersama dan untuk itu dibutuhkan komunikasi. Komunikasi membutuhkan perkodean dan simbol-simbol yang harus dipelajari. Godwin C. Chu mengatakan bhawa setiap pola budaya dan tindakan melibatkan komunikasi. Untuk dipahami, keduanya harus dipelajari bersama-sama. Budaya takkan dapat dipahami tanpa mempelajari komunikasi, dan komunikasi hanya dapat dipahami dengan memahami budaya yang mendukungnya (Deddy Mulyana, 2004: 14).

Beberapa bidang konsep antropologi budaya yang dikaji yang sangat relavan dengan komunikasi yaitu;
1.objek simbol, umpamanya bendara melambangkan bangsa dan uang menggambarkan pekerjaan dan barang-barang dagangan (komoditi)
2.Karakteristik objek dalam kultur manusia. contoh warna unggu dipahami untuk “kerajaan”, hitam untuk “duka cita” warna kuning untuk “kekecutan hati”, putih untuk untuk “kesucian”, merah untuk “keberanian” dan sebagainya
3.Ketiga adalah gesture dimana tindakan yang memiliki makna simbolis, senyuman dan kedipan, lambaian tangan, kerutan kening, masing-masing memiliki makna tersendiri dan semuanya memiliki makna dalam konteks cultural.
4.Simbol adalah jarak yang luas dari pembicaraan dan kata-kata yang tertulis dalam meyusun bahsa. Bahasa adalah kumpulan simbol paling penting dalam kultur.

Gatewood menjawab bahwa kebudayaan yang meliputi seluruh kemanusian itu sangat banyak, dan hal tersebut meliputi seluruh periode waktu dan tempat. Artinya kalau komunikasi itu merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang membudaya, maka komunikasi adalah sarana bagi transmisi kebudayan, oleh karena itu kebudayaan itu sendiri merupakan komunikasi. Berdasarkan pendapat Gatewood itu kita akan berhadapan dengan pernyataan klasik tentang hubungan antara komunikasi dengan kebudayaa, apakah komunikasi dalam kebudayaan atau kebudayaan ada dalam komunikasi? ada satu jawaban netral yang disampaikan oleh Smith (1976) bahwa; “komunikasi dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan”. Dalam tema atau bagian uraian tentang kebudayaan dan komunikasi, sekurangnya-kurangnya ada dua jawaban: pertama, dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi, dan kedua, hanya dengan komunikasi maka pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan dan kebuadayaan hanya akan eksis jika ada komunikasi (Alo Leliweri, 2004, 21).

Budaya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Masyarakat terbentuk dari nilai norma yang mengatur mereka. Manusia merupakan homostatis di mana komunikasi membentuk kebudayaan dan juga bagian dari kebuadayaan itu sendiri. Dalam kehidupan budaya masyarakat dan intekasi menyebabkan maka terjadinya proses komunikasi yang menjadi alat bantu atau guna membantu mereka dalam berinteraksi dengan baik. Bahasa yang merupakan alat komunikasi juga sangat dipengaruhi oleh proses budaya. Dengan adanya kesamaan mengenai memaknai sesuatu tersebutlah sehingga membentuk suatu kebudayaan yang lebih baik dalam interkasi. Pengaruh komunikasi yang disebabkan oleh budaya ini pulalah yang menjadikan perbedaan pemaknaan dari setiap budaya masyarakat dalam berkomunikasi. Jadi, antropologi merupakan ilmu yang lebih dahulu ada dalam memahami perkembangan interaksi manusia, kemudian antropologi ini terus berkembang sehingga mulai melihat dan mengkaji pada prose komunikasi yang tercipta. Inilah yang kemudian menjadikan antropologi menjadi salah satu landasan sehingga lahirnya ilmu komunikasi.

Komunikasi, sosial, budaya, dan perkembangan peradaban sekarang ini adalah tidak hanya sekedar unsur-unsur dan kata-kata saja tetapi merupakan konsep yang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Sehingga studi komunikasi sangat dipengaruhi oleh kajian antropologi begitu juga perkembangan antropologi yang didasarkan pada kekuatan manusia dalam menciptakan peradabannya sangat terkait oleh komunikasi.

C.PENUTUP
Syarat ilmui antara lain menyatakan ia harus memiliki objek kajian, di mana objek kajian itu harus memiliki dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya. Objek material ilmu komunikasi adalah tindakan manusia dalam konteks sosial, sedangkan objek formalnya adalah komunikasi itu sendiri, yakni usaha penyampaian pesan antarmanusia. Syarat ilmu yang kedua menyatakan bahwa ia harus bersistem, bahwa objeknya itu tersusun dalam satu rangkaian sebab akibat yang tersusun secara sistematis. Syarat ilmu yang ketiga adalah metosis, dengan menggunakan cara kerja ilmiah. Syarat yang keempat adalah adanya universalitas (Dani Vardiansyah, 2008: 43-44).

Dengan adanya landasan-landasan yang kuat itulah kemudian orang-orang mulai berfikir ilmiah tentang komunikasi dn menjadikannya sebagai suatu landasan keilmuan dalam mengkaji proses interaksi manusia yang melibatkan komunikasi. Dari epistimologi tertentu juga melihat cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Ilmu komunikasi sebagai ilmu yang tidak bisa lepas dari kajian ilmu lainnya seperti sosiologi, antropologi dan psikologi. Namun ilmu komunikasi juga memiliki landasan sendiri yang cukup kuat untuk dikatakan sebagai sebuah kelilmuan yang ilmiah.


DAFTAR PUSTAKA:

Alo Leliweri, 2003, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, LKIS, Yogyakarta.
_________, 2004, Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Burhan Bungin, 2006, Sosiologi Komunikasi, Prenada Media Group, Jakarta.
Dani Vardiansyah, 2008, Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT Indeks, Jakarta.
Deddy Mulyana, 2004, Komunikasi Efektif, Suatu Pendekatan Lintasbudaya, Remaja Rosdakarya, Bandung.
_____________, 2007, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT Remaja Remaja Rosdakarya, Bandung.
H.A.W. Widjaja, 2000, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi, Rineka Cipta, Jakarta.
Hafied Cangara, 2006, Pengantar Ilmu Komunikasi, PT Rajawali Grafindo Persada, Jakarta.
J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto (ed), 2004, Sosiologoi Teks Pengantar dan Terapan,Prenada Media, Jakarta.
Nina W. Syam, 2009, Sosiologi Komunikasi, Humaniora, Bandung. htm

(Telah Diterbitkan di Jurnal At Tanzir Edisi 5 STAI Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat)

2 komentar:

  1. Apakah tulisan di atas sudah pernah dipublikasikan di Jurnal ilmiah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum, namun dalam proses untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah. karena ini murni tulisan saya

      Hapus